TAQLID BUTA

TAQLID BUTA

Taqlid buta sangatlah berbahaya. Termasuk aib yang tersebar dikalangan kaum musimin dan kesalahan yang harus ditinggalkan pelakunya adalah taqlid buta (ikut – ikutan ).  Semoga Allah Subhanahuwata’ala memperbaiki mereka – seperti sikap membeo terhadap orang – orang barat atau timur dengan cara meniru kata atau perbuatan tanpa mengerti maksudnya agar dikatakan orang kota atau orang modern dan ini adalah kesalahan yang besar.

1.  wahai saudara ku, jauhilah olehmu mengikuti orang lain, hanya karena ikut ikutan saja, sehingga kamu bertanya tentang perkara tersebut kemudian kamu cocokan dengan islam (apakah bertentangan dengan islam atau tidak,pent), karena kadang – kadang ada perkara yang di haramkan seperti mamakai cincin pertunangan yang diberikan oleh pasangan wanita kepada laki- laki yang sangkaan itu menghalangi laki – laki tersebut dari campur baur dengan wanita – wanita lain dan wanita ini lupa bahwa seandainya laki – laki ini ingin bercampur bau dengan wanita lain sangat mungkin baginya untuk melepaskan cincin tersebut. Kebiasaan ini di ambil dari orang nasrani, terlebih lagi bila cincin itu dari emas yang haram atas laki – laki. Sungguh Rasulullah telah melarang kaum muslimin dari tasysabbuh ( meniru/menyerupai) orang kafir. Beliau bersabda : “ siapa yang menyerupai suatu kaum maka orang tersebut termasuk mereka” [Hadist Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud]

2. Termasuk taqlid yang tercela dalah orang-orang yang menginginkan kerendahan dan kehinan bagi kaum muslimin dengan berhukum dengan undang-undang orang barat yang menyelisihi Islam dan meninggalkan hukum syariat  Allah yang telah memulaikan kaum musilimin pada masa kenabian dan orang-orang setelah mereka.

3. Jauhilah pemakaian emas karena emas adalah haram atas laki-laki dan halal untuk perempuan.Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah melihat cincin dari emas di tangan seorang laki-laki.maka beliau melepaskan dan membuang cincin tersebut kemudian bersabda:”adakah salah seorang di antara kalian yang mengenyengaja dengan sepotong bara  api dari neraka kemudian memakaikan-Nya di tanganya?”kemudian ada yang berkata  kepada laki-laki tersebut.” Ambilah cincinmu dan manfaatkan-lah.” Dia menjawab:”Tidak,demi  Allah saya tidak akan mengambilnya selama-lamanya karena Rasullullah tekah melemparnya.”[HR Muslim]

HUKUM DAN FAIDAH DARI HADITS INI: 

 a.setiap orang yang melihat kemungkaran,seperti memakai emas( bagi laki-laki) maka wajib baginya untuk merubah kemungkaran tersebut dengan tangannya apabila ia mampu, sebagaimana yang telah di terangkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau:

|”Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya.apabila tidak mampu,maka dengan lisannya.apabila tidak mampu maka hatinya.dan itu adalah selemah-lemah iman.”[HR Muslim]

  b.peyerupan nabi antara emas dengan bara neraka menunjukkan bahwa hal itu termasuk dosa-dosa yang besar.

   c.diperbolehkan mengambil manfaat dari cincin dan menjualnya berdasarkan ucapan sahabat  pada lafazh hadits: Ambillah cincinmu dan manfaatkanlah.

   d.sambutan sahabat terhadap perbuatan nabi,dan tidak mengambilnya setelah di buang oleh Rasulullah menunjukkan keimanan yang kuat dan pengorbanan dengan harta.

    KESIMPULAN

       Pemuda hendaknya memakai cincin dari perak,dan perak ini lebih indah dari pada emas pada bentuknya yang indah dan kilauannya yang bagus.harganya juga lebih murah daripada emas .islam telah mengahalalkannya untuk laki-laki dan wanita.

       Saya pernah menasehati seorang yang memakai cincin dari emas . saya sebutkan kepadanya hadits dari rasulullah tersebut .orang tersebut menyangka bahwa  memakai emas adalah boleh.maka orang itu pun melepaskan cincin dari tangannya dan dia berikan kepadaku. Kemudian saya  jual dan saya belikan untuk orang tersebut cinci dari perak.dan saya serahkan sisa uang pembelinya.maka orang tersebut sangat gembira dan akhirnya kaum muslimin mengikuti orang tersebut sehingga tepatlah sabda beliau Rasulullah untuk orang tersebut.

“siapa yang mensunnahkan dalam islam dengan sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang-orang tersebut sedikitpun.”[HR Muslim]

1.Kita harus mengikuti orang barat pada penemuan-penemuan terbaru seperti pesawat-pesawat,tank-tank,kapal selam,dan yang lainnya dari persejataan perang modern sehingga kita tidak membutuhkan mereka dan kita mampu membela agama dan tanah air kita, bukannya kita taqlid kepada mereka kita bersolek, ,dansa,parfum-parfum dan perkara-perkara yang berbahaya lainnya. sungguh benar perkataan menyair:  

 Mereka mengikuti orang barat tetapi pada kemaksiatan yang inti mereka tingalkan kemudian meminjam kulit luarnya

2.       Islam telah melarang kita untuk bertaqlid kepada sesama kita dalam perkara yang jelek ,dimana ibnu mas ‘ud   berkata :”janganlah kalian menjadi orang yang seperti bunglon ,yang mengatakan :apabila manusia baik maka saya akan baik ,dan apabila manusia jelek maka maka saya ikut jelek .akan tetapi siapakah diri diri kalian ,kalian bak apabila manusia baik dan jangan kalian berbuat zhalim apabila manusia jelek .”

                     Sangat disayangkan apabila kita menasihati sebagian orang:” jangatlah kalian menipu,janganlah wanita-wanita kalian membuka wajahnya.”maka kalian melihat mereka akan mencari alasan dan mengatakan:

”Orang-orang semua berdusta,menipu, wanita-wanita membuka wajah.”

seolah-olah mereka ingin meniru orang-orang tersebut.

                     Maka hati-hatilah wahai saudaraku muslim dari berjalan bersama dengan arus-arus yang jelek,dan taqlid-taqlid yang berbahaya.

3.Janganlah kalian bertasyabbuh dengan pakaian-pakaian orang asing,seperti bantolun (celana ketat) yang membentuk aurot,terlebih lagi memakai topi.jangan kalian taqlid dengan orang-orang eropa.jangan kalian memakai topi adalah ciri khusus bagi orang kafir,yahudi dan nasrani,dan dalam hadits disebutkan:

siapa wajib atas kamu adalah menyerupai Rasulullah,para sahabat beliau dan orang-orang yang shalih,dan janganlah melihat kepasa orang-orang yang tidak berpegang teduh dengan islam.

(dikutip dari buku Kiat Mendidik Anak, Pustaka Al Haura’)

WEB SALAFY

Dalil Haramnya Gambar makhluk Hidup

Keterangan Syaikh Abdul Aziz Bin Baz
Sesungguhnya banyak sekali hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dalam kitab-kitab yang shahih, baik itu Sunan ataupun musnad-musnad, mengenai haramnya membuat gambar (lukisan, foto dan ukiran) sesuatu yang bernyawa, entah itu (gambar) manusia atau bukan.

Didalam hadits-hatdis itu ada riwayat yang menceritakan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam merobek tirai-tirai yang bergambar dan memerintahkan menghapus gambar-gambar. Disamping itu beliau melaknat tukang gambar dan menerangkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang paling keras mendapat siksa di hari kiamat.

Disini saya (Syaikh Bin Baz) akan menyampaikan secara global hadits-hadits shohih mengenai permasalahan ini beserta keterangan ulamanya. Dan akan saya jelaskan mana yang benar, Insya ALLAH Ta’ala.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : ALLAH Ta’ala berfirman : Dan siapakah yang lebih dzalim dari mereka yang akan membuat satu ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaknya mereka menciptakan satu dzarrah, atau biji, atau gandum.” (Dalam Shahihain, lafadz Riwayat Muslim).

Dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling keras disiksa di hari Kiamat adalah para tukang gambar (mereka yang meniru ciptaan Allah)”. (Shahihain – yakni dalam dua kitab Shahih Bukhari dan Muslim atau biasa disebut muttafaqun ‘alaihi, red)

Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Sesungguhnya orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa hari kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang telah kalian buat!’”. (Dalam Shahihain, lafadz Bukhari).

Dari Abu Juhaifah Radiyallahu ‘anhu : “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam telah melarang dari (memakan) hasil (jual beli) darah, anjing, usaha pelacuran, dan (beliau) telah melaknat pemakan riba, yang menyerahkannya, pembuat tato (gambar tubuh), yang meminta ditato serta tukang gambar.” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Siapa yang membuat satu gambar di dunia, dia dibebani (disuruh) untuk meniupkan ruh pada gambar itu dan ia bukan peniupnya (tidak akan mampu meniup ruh untuk menghidupkan gambar tsb, red)”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : “Semua tukang gambar di Neraka dan dijarikan baginya setiap yang digambarnya satu jiwa (ruh) yang menyiksanya di Jahannam. Ibnu Abbas berkata : “Jika kamu mesti mengerjakannya, maka buatlah (gambar) pohon-pohon dan apa-apa yang tidak bernyawa (roh).” (HR Muslim).

Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam masuk menuju saya dan saya menutup bilik dengan tirai tipis bergambar (dalam riwayat lain : menggantungkan tirai tipis bergambar kuda bersayap…), maka ketika beliau melihatnya dia merobeknya dan dengan wajah merah padam, beliau bersabda : “Hai Aisyah, manusia yang paling keras disiksa di Hari Kiamat adalah mereka yang meniru ciptaan ALLAH.” Kata Aisyah : “Maka kami memotong-motongnya lalu menjadikannya satu atau dua bantal.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah, ia berkata : “Saya membeli sebuah bantal bergambar. Maka ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak masuk. Saya mengenal tanda kemarahan pada wajah beliau. Saya berkata “ Ya Rasulullah, saya taubat kepada ALLAH dan RasulNya, apa dosa saya ?” Beliau bersabda : “Ada apa dengan bantal ini ?” Saya berkata : “Saya membelinya agar Anda duduk di atasnya dan menyandarinya.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Sesungguhnya pemilik (pembuat) gambar-gambar ini akan disiksa di hari Kiamat, dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkan apa yang telah kalian buat!’ Dan sabdanya lagi : Sesungguhnya rumah yang didalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “(Sesungguhnya kami para) Malikat tidak masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan gambar” (HR Bukhari & Muslim, dengan lafadz Muslim). Dalam riwayat Ibnu Umar “(Sesungguhnya kami para) Malaikat tidak masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan gambar.”.

Dari Zaid bin Khalid dari Abi Talhah secara marfu’ : “Malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan patung (gambar).” (HR Muslim).

Dari Abi al Hayyaj Al Asadi, ia berkata : Ali mengatakan pada saya : Maukah kamu saya utus kepada apa yang saya pernah diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam : yaitu “Jangan kau tinggalkan satu gambarpun, melainkan kamu hapuskan dia dan tidak ada satu kuburpun yang menonjol (dikejeng, red) melainkan kau ratakan dia.” (HR Muslim).

Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam menyuruh Umar bin Khattab (waktu Fathu Mekkah) sedang beliau ketika itu di Bath-ha’ agar mendatangi Ka’bah dan menghapus semua gambar didalamnya dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak masuk sampai semua gambar telah dihapus. (HR Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqi, Ibnu Hibban dan beliau mensahihkannya).

Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha : “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak pernah membiarkan dalam rumahnya sesuatu yang ada padanya SALIB-SALIB melainkan beliau mematahkannya. “ (HR Bukhari). Dan Al Kasymihani dengan lafadz “gambar-gambar”, dan Bukhari menerangkannya dengan bab Naqdhi Shuwar dan menguraikan hadits tersebut

Imam Nasa’I meriwayatkan dengan lafadz : “Jibril minta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, beliau berkata : Masuklah. Kata Jibril : Bagaimana saya akan masuk sedangkan dalam rumah Anda ada tirai brgambar ? Maka jika Anda potong kepala-kepalanya, atau Anda jadikan hamparan yang dipijak (dihinakan setelah dipotong, red – barulah Jibril akan masuk). Karena sesungguhnya kami – para malaikat – tidak akan masuk ke rumah yang didalamnya ada gambar-gambar.” (HR Abdur Razaq, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan beliau mengatakan Hasan Shahih dan Ibnu Hibban mensahihkannya).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits tentang masalah ini. Hadits-hadits ini adalah dalil yang nyata tentang haramnya membuat gambar sesuatu yang bernyawa dan termasuk dosa besar yang diancam dengan neraka bagi penggambarnya. Hadits ini menunjukkan keumuman segala jenis gambar, baik itu didinding, tirai, kemeja, kaca, kertas dan sebagainya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tidak membedakannya, baik yang tiga dimensi atau selainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam melaknat pembuatnya dan mengabarkan paling keras disiksa di hari kiamat dan semuanya di Neraka.

Imam Al Hadifz Ibnu Hajar Al Atsqalani mengatakan : “Kata al Khaththabi : dan gambar yang menghalangi masuknya malaikat ke dalam rumah adalah gambar yang padanya terpenuhi hal-hal yang haram, yakni gambar-gambar yang makhluk yang bernyawa, yang tidak terpotong kepalanya atau tidak dihinakan. Dan bahwasanya dosa tukang gambar itu besar karena gambar-gambar itu ada yang diibadahi selain ALLAH, selain gambar itu mudah menimbulkan fitnah (bahaya) bagi yang memandangnya (gambar wanita, tokoh, ulama, red).”

Imam An Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim : “Sahabat kami dan para Ulama selain mereka mengatakan bahwa haramnya membuat gambar hewan adalah sekeras-keras pengharamaan. Ini termasuk dosa besar karena ancamannya juga amat besar, sama saja apakah dibuat untuk dihinakan atau tidak. Bahkan membuatnya jelas sekali haram karena meniru ciptaan ALLAH. Sama saja apakah itu dilukis pada pakaian, permadani, mata uang, bejana, dinding atau lainnya. Adapun menggambar pepohonan dan sesuatu yang tidak bernyawa, tidak apa-apa. Inilah hakikat hukum menggambar. Sedangkan gambar makhluq bernyawa, jika digantung / ditempel di dinding, di sorban dan tindakan yang tidak termasuk menghinakannya, maka jelas hal itu terlarang. Sebaliknya bila dibentangkan dan dipijak sebagai alas kaki atau sebagai sandaran (setelah dipotong kepalanya, red) maka tidaklah haram dan tidak ada bedanya apakah gambar tsb berjasad (punya bayangan/3 dimensi) atau tidak. Ini adalah kesimpulan mahdzab kami dalam masalah ini yang semakna dengan perkataan jumhur Ulama dari kalangan Sahabat, Tabi’in, dan orang yang sesudah mereka (Tabi’ut Tabi’in). Ini juga pendapat Imam Ats Tsauri, Malik Bin Anas dan Abu Hanifah serta ulama lainnya.

Dalam hadits-hadits itu tampak jelas tidak ada perbedaan apakah yang diharamkan itu gambar tiga dimensi atau bukan, dilukis di atas kertas atau di tirai dan sebagainya. Bahkan tidak ada perbedaan apakah itu gambar tokoh, ulama atau pembesar.

Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha ia berkata : “Saya biasa bermain boneka di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam dan saya punya beberapa orang teman yang bermain bersama saya. Maka jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam masuk, mereka menutupinya dari beliau lalu berjalan sembunyi-sembunyi dan bermain bersama saya.” (HR Bukhari Kitab Al Adab Bab Al Inbisaath ilaa an Naas, Fath 10/526 dan Muslim kitab Fadhail Ash Shahabah Bab fii Fadhail Aisyah, An Nawawi 15/203 dan 204).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari tentang hadits ini “ Hadits ini dijadikan dalil bolehnya boneka dan mainan untuk bermain (mendidik) anak perempuan, dan sebagai pengkhususan dari keumuman larangan mengambil gambar. Iyadl juga menetapkan yang demikian dan ia menukil dari jumhur, bahwasanya mereka membolehkan boneka atau mainan ini untuk melatih dan mendidik anak-anak perempuan agar mengenal bagaimana mengatur rumah-tangga dan merawat anak-anak nantinya. Dan sebagian ulama menyatakan ini mansukh (telah dibatalkan). Ibnu Bathal cenderung pada pendapat ini dan ia menceritakan dari Abi Zaid dari Malik. Tetapi dari sini pula Ad-Daudy merajihkan bahwa hadits Aisyah (diatas) mansukh. Sedang Ibnu Hibban dan Nasa’I membolehkan namun tidak membatasi untuk anak-anak kecil walaupun padanya ada perbincangan.

Al Baihaqi mengatakan setelah mentakhrij hadits-hadits tersebut : Telah tsabit (tetap) larangan tentang mengambil gambar. Maka kemungkinan rukhsah bagi Aisyah terjadi sebelum pengharaman. Ibnul jauzi menetapkan yg demikian juga, sehingga beliau berkata : “Dan Abu Dawud dan An Nasa’I dari sisi lain dari Aisyah (ia berkata) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam datang dari perang Tabuk (Khaibar) {lalu menyebut hadits beliau merobek tirai yang terpancang di pintunya{ Kemudia Aisyah melanjutkan, lalu beliau menyingkap sisi tirai di atas mainan Aisyah dan Beliau bersabda : “Apa ini hai Aisyah ?”. Saya menjawab :”Boneka perempuan saya”. Beliau melihat kuda-kudaan bersayap yang dalam keadaan terikat, lalu bersabda : “Apakah ini ?” Saya katakan : “Kuda bersayap dua. Tidakkah Anda mendengar bahwa Sulaiman ‘alaihis salam mempunyai kuda yang bersayap ? Beliaupun tertawa.”.

Al Khathabi berkata : Dalam hadits ini menunjukkan mainan untuk anak-anak perempuan tidaklah seperti semua gambar yang datang ancaman, hanya saja beliau memberikan keringanan bagi Aisyah karena pada waktu itu Aisyah belum dewasa.”

Al Hafidz berkata : Penetapan dengan dalil ini ada perbincangan, akan tetapi kemungkinannya adalah karena Aisyah waktu peristiwa perang Khaibar berusia 14 tahun dan waktu peristiwa perang Tabuk sudah baligh. Dengan demikian, ini menguatkan riwayat yang mengatakan hal itu terjadi pada peristiwa Khaibar dan mengumpulkannya dengan pendapat Al Khathabi.

(Syaikh Bin Baz) Oleh karena itu, jika hal ini telah dipagami, maka meninggalkan gambar-gambar (boneka) itu adalah lebih selamat karena padanya ada perkara yang meragukan. Mungkin penetapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bagi Asiyah itu sebelum munculnya perintah beliau untuk menghapus gambar-gambar. Dengan begitu hadits Aisyah ini menjadi mansukh dengan datangnya larangan dan perintah penghapusan gambar itu, kecuali yang terpotong kepalanya atau dihinakan, sebagaimana madzab Al baihaqi, Ibnul Jauzi dan Ibnu Bathal. Dan mungkin juga ini dikhususkan dari pelarangan itu (sebagaimana pendapat jumhur) untuk kemaslahatan pendidikan. Ini karena permainan itu merupakan bentuk penghinaan atas gambar (boneka). Jadi kemungkinan ini maka lebih aman untuk meninggalkannya, sebagaimana pengamalan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam dari Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib Radiyallahu ‘anhu :” Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu.” (HR Ahmad 1/200, Disahihkan oleh Ahmad Syakir dalam tahqiqnya terhadap Musnadz 3/169, Ath Thayalisi hal 163 no 1178 dan AL Albani mensahihkan dalam jamius Shaghir 3372 dan 3373, pent).

Demikian juga dalam hadits berikut ini dari Nu’man bin Basyir Radiyallahu ‘anhu secara marfu’ “ Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan diantara keduanya ada perkara-perkara sybhat yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka siapa yang menjaga diri dari syubhat, maka dia telah membersihkan Dien dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh kepada yang haram, seperti penggembala sedang menggembalakan ternaknya di sekitar tempat yang di pagar (terlarang), hampir-hampir ia terjatuh padanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

(Dinukil dari Majalah Salafy, Edisi V/Dzulhijjah/1416/1996 Judul asli Fatwa Ulama tentang Hukum Gambar, oleh Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz bin Baz, mufti Saudi Arabia. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits.

Bentuk Kedurhakaan Kepada Orang Tua

Sesungguhnya hak kedua orang tua sangat agung, dan kedudukan keduanya dalam syariat islam  sangat tinggi, oleh karena itu perintah berbakti kepada keduanya digandengkan dengan perintah mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, Hal ini disebutkan Allah  Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakan : kemarilah aku bacakan kepada apa-apa yang telah Rabb-mu haramkan kepada kalian yaitu janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. “ (QS : Al-An’am :151)

Dan perintah bersyukur kepada keduanya juga digandengkan dengan perintah bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Berbuat baik kepada kedua orangtua diantara amalan-amalan yang paling mulia dan sangat dicintai Allah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِير


“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapinya  dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-ku lah kamu kembali. “
( QS : Luqman : 14 )

Dalam Hadits juga diterangkan tentang tingginya  kedudukan kedua orang tua dan keutamaan berbakti  dan larangan serta ancaman bagi yang durhaka kepada kedua orang tua. Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata : saya bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Amalan apa yang paling dicintai Allah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Shalat tepat pada waktunya, saya bertanya lagi  : kemudian apa lagi ? Nabi menjawab : berbakti kepada kedua orang tua. saya bertanya lagi : kemudian apa lagi ? Nabi menjawab : berjihad dijalan Allah.“ (HR.Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celakalah, kemudian celakalah, kemudian celakalah, dikatakan kepada beliau siapa wahai Rasulullah? Orang yang menjumpai orang tuanya dalam keadaan sudah tua salah satu atau kedua-duanya kemudian tidak menyebabkan dia masuk surga.” (HR.Muslim)


BERBAKTI PADA ORANG TUA ADALAH SYARIAT

Berbakti kepada kedua orang tua , diantara hal yang telah diakui fitrah yang masih lurus, dan semua syariat yang berasal dari langit, dan itu merupakan akhlak para Nabi dan jalannya orang-orang shaleh. Sebagaimana berbakti kepada kedua orang tua bukti kebenaran iman seorang, kemuliaan jiwa.

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan hal yang menunjukan keindahan  serta bukti kesempurnaan syariat Islam, berbeda dengan syariat buatan manusia yang tidak
keutamaan dan kedudukan kedua orang tua, serta tidak menjaga hak-hak keduanya, seperti yang terjadi dinegara-negara barat. Seakan-akan orang tua hanya sebuat alat, yang apabila telah habis masa berlakunya, dicampakan begitu saja.


KEDURHAKAAN TERMASUK DOSA-DOSA BESAR

Dan ingatlah bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Dimana Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ


”Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar (diucapkan 3 kali), para shahabat berkata: ‘Tentu wahai Rasulullah’, Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘ Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua…  ”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

ARTI KEDURHAKAAN KEPADA ORANGTUA DAN BENTUKNYA

Durhaka kepada kedua orang tua yaitu bermuamalah dengan mereka dengan apa-apa yang menyakiti mereka dari hal-hal yang menyelisih syariat islam atau tidak berbakti kepada keduanya.

Kedurhakaan kepada kedua orang banyak bentuknya, diantaranya :

1.    Membentak menghardik kedua orang tua, yaitu dengan meninggikan suara didepan keduanya serta berlaku kasar dalam ucapan. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman : “ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia “. ( QS : Al-Isra : 23 )

2.    Membuat keduan orang tua menangis atau sedih, baik dengan ucapan , perbuatan atau penyebab mereka berdua menangis.

3.    Mengatakan “ ah “ dan berkeluh kesah dengan perintah kedua orang tua, kebanyakan dari kita ketika orang tuanya memerintahkannya, keluar dari mulutnya ucapan  “ ah “ walaupun nanti dia akan melaksanakan perintah kedua orang tuanya.   Allah Subhanahu wata’ala  berfirman : “maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah “  dan janganlah kamu membentak mereka ..” (QS : Al-Isra : 23 ).

4.    Bermuka masam didepan kedua orang tua, sebagian orang, akan  kamu dapati ceria, senyum, berakhlak yang baik serta memilih kata-kata yang baik ketika didalam majelis, akan tetapi tatkala ia memasuki rumah dan duduk dihadapan kedua oranga tuanya, maka ia berubah seperti singa , berubah keadaannya.

5.    Memandang dengan pandangan yang merendahkan kepada orang tua saat Marah. Seorang anak yang seakan lebih tinggi kedudukannya dari orangtua, ketika marah dengan mudah memandang jelek dan merendahkan keduanya.

6.    Mencela makanan yang dibuat Ibunya, hal ini telah melanggar dua larangan : pertama : mencela makanan, dan hal ini tidak boleh, Nabi shallallahu alaihi wasallam “ tidak pernah mencela makanan sekalipun, jika ia menyukainya, maka ia makan, kalau tidak maka ia tinggalkan “ kedua : kurang beradab kepada Ibu dan menyusahkannya.

7.    Memerintahkan kedua orang tuanya, Hal ini tidak layak, apalagi kalau Ibunya lemah, lanjut usia atau dalam keadaan sakit. Adapun jika ibu melakukan hal itu dengan kerelaan  serta keinginannya dan tubuhnya  masih kuat, maka hal itu tidak mengapa, bersamaan dengan itu memperhatikan rasa syukur kepadanya dan mendoakannya.

8.    Tidak membantu keduanya dalam pekerjaan rumah,  Bahkan sebagian anak laki-laki menganggap hal itu mengurangi hak mereka dan menghilangkan sifat kelaki-lakian. Sebagian anak-anak perempuan, ketika mereka melihat ibunya, terbebani pekerjaan rumah tangga, ia tidak membantunya, bahkan sebagian mereka menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan teman-temannya lewat telepon dan membiarkan ibunya menderita (semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka).

9.    Mencela dan melaknat kedua orang tuanya, baik secara langsung atau penyebab orang tuanya dicela, dari sahabat Abdullah bin Amr,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “diantara dosa-dosa besar, yaitu seorang mencela kedua orang tuanya, lalu ditanyakan ; apakah (mungkin) seseorang  mencela kedua orang tuanya? Nabi menjawab : ya, dia mencela bapak seseorang lalu orang itu mencela bapaknya,dia mencela ibu seseorang lalu orang itu mencela ibunya“. (HR. Bukhari dan Muslim ).

10.    Mengutamakan istri daripada kedua orang tuanya, sebagian manusia mendahulukan menuruti kemauan istri daripada kedua orang tuanya kalau seandainya istri meminta untuk mengusir kedua orang tuanya, maka niscaya ia akan mengusir keduanya.

11.     Berlepas diri dari orang tua, dan malu mengakui kedua orang tuanya.

12.    Mencuri sesuatu milik kedua orang tuanya. maka anak ini telah melakukan dua larangan yaitu mencuri dan durhaka.

13.    Berkeinginan agar orang tuanya cepat meninggal. sebagian anak berkeinginan agar orang tuanya cepat meninggal agar ia bisa mewarisi  keduanya jika mereka orang kaya atau ingin cepat berlepas dari orang tua  jika mereka berdua sedang sakit atau miskin.

 

SEBAB-SEBAB KEDURHAKAAN

Dan perlu kita ketahui bahwa kedurhakaan seorang anak kepada orang tuanya itu , mempunyai sebab-sebab yang berbeda-beda, diantara sebabnya yaitu :

1.    KEBODOHAN, karena bodoh tentang kedurhakaan dan buah dari berbakti kepada orang tua, cepat ataupun lambat, hal itu menuntun kepada kedurhakaan atau berpaling dari berbakti kepada kedua orang tua.

2.    SALAH DIDIK, apabila orang tua tidak membina anak-anaknya diatas ketakwaan, kebaikan, maka hal itu akan menuntun mereka kepada kesombongan dan kedurhakaan.

3.    KEDURHAKAAN ORANG TUA KEPADA ORANG TUA MEREKA.

4.    TEMAN BERGAUL YANG JELEK.

5.    MEMBEDAKAN ANTARA ANAK-ANAK.
Inilah sebagian bentuk-bentuk kedurhakaan dan sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kedurkaan seorang anak kepada orang tuanya. Kita memohon kepada Allah
subhanahu wata’la agar Allah memberika taufiq kepada kita semua agar bisa menjadi anak-anak yang berbakti serta Allah menganugerahkan kepada kita anak -anak yang shaleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya.waffaqanallah waiyyaakum.

Wallahu a’lam bish shawwab. (Ditulis oleh Al Ustadz Irwan)

MARAJI’ / REFERENSI :
۞    Uquuqul Walidain, Asbabuhu wamadzahiruhu wailajuhu, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

Sumber : daarulhaditssumbar.or.id

Termasuk Syirik Manakala Mengadukan Keluh Kesah di Facebook, Twitter, dan Jejaring Sosial Lainnya

Istigatsah artinya meminta al-ghauts (mengadukan kesulitan dan keluh kesah) yang berarti menghilangkan kesusahan. Istighatsah itu berbeda dengan doa. Istigatsah hanya dikhusukan pada permohonan dalam keadaan sulit dan susah, sedangkan doa bersifat lebih umum, karena bisa dilakukan dalam kondisi susah maupun kondisi lainnya. Penyebutan doa atas istighatsah adalah penyebutan sesuatu yang umum kepada sesuatu yang khusus, keduanya adalah seuatu yang umum dan khusus secara mutlak. Oleh karena itu, semua bentuk istigatsah adalah temasuk doa, tapi tidak semua doa adalah istigatsah.

Dan yang dimaukan dengan penulisan bab ini oleh penulis: Penjelasan haramnya istighatsah (mengadukan kesulitan dan kesuh kesah) kepada sesuatu selain Allah atau berdoa kepada selain-Nya yang mati dikarenakan itu adalah perbuatan syirik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu berdoa (mengadukan keluh kesah) kepada sesuatu selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: 106)

Penjelasan per-kata

Dan janganlah kamu berdoa: mencakup doa masalah (mengadu, keluh kesah, dan meminta) dan doa ibadah (shalat, dzikir, dan amalan ibadah)
Kepada sesuatu selain Allah: mencakup apa saja dari sesuatu selain Allah (facebook, twitter, status BBM, dan jejaring sosial lainnya, juga berdoa di sisi kuburan dan benda lain yang dianggap keramat)
Yang tidak memberi manfaat: yakni tidak mendatangkan manfaat (percuma saja)
Tidak (pula) memberi mudarat kepadamu: yakni tidak bisa menghilangkan kemudharatan dan mencegah keburukan.
Jika kamu berbuat (yang demikian) itu: Yakni mengadu kesulitan dan keluh kesah kepada sesuatu selain Allah.
Termasuk orang-orang yang zhalim: yakni termasuk orang yang berbuat syirik.

Penjelasan global

Allah Subhanahu wa Ta’ala melalaui ayat ini melarang nabi-Nya Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dan melarang seluruh umat dari beribadah dan meminta kepada setiap sesuatu selain Allah Azza wa Jalla, karena setiap sesuatu selain Allah Azza wa Jalla tidak satupun yang memiliki kemanfaatan dan kemudharatan.

Dan Dia juga mengkabarkan bahwasanya jika berbuat yang demikian itu niscaya termasuk orang-orang yang berbuat syirik.

Faidah hadits ini

1. Bahwasanya yang bisa mendatangkan kemanfaatan dan mencegah kemudharatan adalah kekhususan Allah Azza wa Jalla (Hanya Allah yang mampu melakukannya).
2. Bahwasanya siapa yang berdoa (mengadukan kesulitan dan keluh kesah) kepada sesuatu selain Allah dengan keyakinan memiliki kemanfaatan dan kemudharatan, bukannya Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik.
3. Zhalim diibaratkan dengan kesyirikan.

[Dinukil dari kitab Al Jadid Syarhu Kitabut Tauhid, Penulis asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi, hal. 124-125]

Hari Ibu [Tasyabbuh dengan orang Kafir]

Al Ustadz Abu Musa Saifuddin Zuhri , Lc

Sesungguhnya setiap muslim telah dibimbing untuk senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagaimana doa yang selalu dilantunkan dalam shalat yakni saat membaca surat Al-Fatihah.
Surat tersebut mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar bisa berpegang dengan ajaran Islam secara benar dan dijauhkan dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashara. Namun barangkali karena tidak memahami apa yang terkandung dalam doa yang dibaca atau tidak menghadirkan hati ketika membacanya, maka kita melihat sebagian kaum muslimin banyak yang terjatuh dalam perbuatan meniru-niru orang kafir.
Diantara bentuk meniru-niru orang kafir yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah sebagai berikut:
1. Mengeramatkan kuburan/makam tertentu, mengagungkan orang-orang shalih secara berlebihan, serta menjadikan kuburan mereka sebagai masjid, yaitu dengan melakukan berbagai bentuk ibadah di atasnya atau dengan mengubur seseorang di masjid.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjelaskan: “Dan di antara perbuatan bid’ah dan perkara yang mengantarkan pada perbuatan syirik adalah apa yang dilakukan di sekitar kuburan berupa shalat, membaca Al Qur’an, dan membangun masjid atau bangunan kubah di atasnya. Ini semua adalah bid’ah dan kemungkaran, serta menghantarkan pada syirik besar.Oleh karena itu, telah datang hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan Nashara yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Kemudian setelah menyebutkan hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, beliau rahimahullah menyatakan:

“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna dengan kedua hadits tersebut bahwasanya Yahudi dan Nashara menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya untuk tidak meniru-niru mereka dengan menjadikan kuburan sebagai masjid. Seperti shalat, i’tikaf, dan membaca Al Qur’an di kuburan, karena semua itu termasuk dari perkara-perkara yang akan menyebabkan kesyirikan. Termasuk dalam perkara ini adalah membuat bangunan di atas kuburan, membangun kubah, serta memberikan kain kelambu di atasnya. Maka semua itu adalah hal-hal yang menyebabkan kesyirikan dan berlebih-lebihan terhadap yang dikubur. Sebagaimana hal tersebut telah terjadi di kalangan Yahudi dan Nashara dan juga orang-orang bodoh dari umat sekarang ini…” (Fatawa Muhimmah Tata’allaq Bil ‘Aqidah, hal. 14-15 )2. Merayakan perayaan-perayaan yang tidak ada dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan perayaan orang-orang kafir sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:


وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur.” (Al-Furqan: 72)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang tafsir ayat tersebut: “Dan sungguh telah berkata lebih dari satu orang dari kalangan salaf tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 
وَالَّذِيْنَ لاَيَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ
Mereka mengatakan (tentang makna az-zuur) yaitu hari-hari raya orang kafir. (Majmu Fatawa, 25/331)Maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menghadiri perayaan orang-orang kafir terlebih merayakannya.

Dan termasuk dalam hal ini adalah menjadikan hari raya mereka sebagai hari libur, seperti mengkhususkan hari Sabtu dan Ahad sebagai hari libur.

Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi) menyebutkan dalam fatwanya: “Tidak boleh mengkhususkan hari Sabtu atau Ahad sebagai hari libur, atau menjadikan keduanya sebagai hari libur karena hal itu termasuk meniru-niru orang Yahudi dan Nashara. Karena sesungguhnya Yahudi meliburkan hari Sabtu dan Nashara meliburkan hari Ahad dalam rangka memuliakan kedua hari tersebut…” (Fatawa Al-Lajnah, 2/75)

Kemudian lebih rinci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk meniru-niru mereka dalam hal-hal yang dikhususkan untuk perayaan-perayaan mereka. Tidak pula dalam makanan, pakaian, mandi, menyalakan api, meliburkan kebiasaan bekerja atau beribadah, atau yang selainnya. Dan tidak boleh untuk mengadakan pesta, memberikan hadiah, atau menjual sesuatu yang membantu dan bertujuan untuk acara tersebut. Serta tidak boleh membiarkan anak-anak kecil atau yang seusianya untuk bermain-main kaitannya dengan perayaan tersebut dan tidak boleh memasang hiasan (menghiasi rumah/ tempat tertentu dalam rangka menyemarakkan perayaan tersebut, pent).” (Majmu’ Fatawa, 25/329)

Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru-niru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.

Selanjutnya termasuk dalam hal ini adalah memperingati hari kelahiran seseorang baik itu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (perayaan Maulud Nabi) atau hari kelahiran lainnya. Begitu pula merayakan peristiwa-peristiwa tertentu seperti Isra’ Mi’raj, awal tahun baru Hijriyyah, serta merayakan hari atau pekan tertentu sebagai hari khusus untuk beramal seperti hari ibu, pekan kebersihan, dan sebagainya.

Ini bukan berarti kaum muslimin mengabaikan serta tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan kaum muslimin senantiasa dituntut untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun (hal ini dilarang) karena perayaan adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dikhususkan dengan dilakukan secara berulang-ulang (ditradisikan, red) kecuali ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul-Nya.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan: “…Dan perbuatan ini (perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent) tidak pernah dilakukan pada masa-masa terbaik umat ini, akan tetapi ini hanyalah perbuatan yang diada-adakan pada abad ke-6 Hijriyah dalam rangka mengikuti Nashara yang merayakan hari kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam Dan sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari meniru-niru mereka.” (Al-Khuthab Al-Mimbariyyah, hal. 89)Jika orang-orang terbaik dari umat ini tidak melakukannya, lalu apa yang menyebabkan seseorang melakukannya? Apakah dirinya merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat? Ataukah dia menganggap para shahabat lebih tahu namun mereka tidak mau mengamalkan ilmunya? Sungguh betapa jelasnya kesesatan yang ia lakukan.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga menyatakan:“Dan termasuk mengikuti mereka (orang-orang kafir, pent) di dalam perayaan-perayaan baik yang bersifat syirik ataupun bid’ah adalah seperti memperingati perayaan-perayaan hari kelahiran, baik kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kelahiran para pemimpin atau penguasa. Dan kadang-kadang perayaan-perayaan yang sifatnya syirik dan bid’ah ini diberi nama dengan penyebutan hari-hari atau pekan-pekan. Seperti hari kemerdekaan, hari ibu, atau pekan kebersihan.” (Al-Khuthab, hal. 43)

3. Menggunakan kalender Masehi (kalender orang kafir) dan meninggalkan kalender Islam (Hijriyyah)

Sebagian besar kaum muslimin saat ini hampir tidak lepas dari kalender Masehi. Bahkan sebagian mereka nampak tidak peduli dengan kalender Hijriyyah. Terbukti, ketika ditanya kepada sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin tentang bulan hijriyyah, maka banyak di antara mereka yang tidak hafal atau tidak mengetahuinya. Padahal penggunaan kalender hijriyyah sangat penting, karena banyak berhubungan dengan amalan ibadah seperti puasa wajib dan sunnah, ibadah haji, dan lainnya.

Al-Lajnah Ad-Daimah dalam fatwanya berkenaan seputar tahun 2000 M menyebutkan: “Kemuliaan bagi kaum muslimin adalah berpegangnya mereka dengan kalender hijrah Nabi mereka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana shahabat telah menyepakatinya. Mereka menggunakannya sebagai kalender tanpa ada perayaan (tahun baru, pent) dan kaum muslimin telah mewarisinya 14 abad setelah mereka sampai hari ini. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berpaling dari kalender Hijriyyah dan mengambil kalender lainnya yang digunakan manusia seperti kalender masehi. Hal itu berarti telah meminta ganti sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih buruk.”

4. Meniru-niru aturan, kebiasaan, serta akhlak orang kafir.

Semestinya seorang muslim selalu berpegang kuat dengan agamanya dalam seluruh aspek kehidupannya baik akidah, tata cara beribadah, aturan-aturan pergaulan, akhlak, maupun kebiasaannya. Namun masih banyak dari kaum muslimin yang kurang memperhatikan masalah ini. Maka tentunya hal ini menunjukkan lemahnya iman. Mereka tidak tahu bahwa dirinya telah tertipu dengan meninggalkan ajaran yang mulia dan mengambil ajaran yang rendah dan hina.

Di antara bentuk-bentuk meniru orang kafir dalam masalah ini seperti:

[1] Menggunakan aturan sosialis, sekuler, demokrasi, dan yang semisalnya dari aturan-aturan tata negara yang dibuat orang kafir. Demikian pula dalam sistem ekonomi seperti sistem riba dan sebagainya. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Termasuk bentuk meniru-niru orang kafir adalah menjalankan aturan-aturan dan perundang-undangan orang kafir. Atau ajaran-ajaran yang berbahaya seperti ajaran sosialis dan ajaran sekuler yang membedakan antara agama dan pemerintahan, serta yang lainnya dari hukum, aturan ekonomi, dan aturan lainnya…” (Al-Khuthab, 2/168)[2] Berbangga diri dengan menggunakan bahasa orang kafir atau menggunakannya tanpa ada kebutuhan. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Dan termasuk dalam bentuk meniru-niru orang kafir adalah bercakap-cakap dengan bahasa orang-orang kafir pada kebutuhan yang tidak mendesak. Serta menulis dengan bahasa mereka di tempat-tempat berjualan di negara kaum muslimin. Atau mencampur kalimat dan istilah-istilah dari bahasa mereka di dalam buku-buku Islam dan karya-karya lainnya.” (Al-Khuthab, 2 / 168)

[3] Mencukur jenggot dan membiarkan kumis memanjang, serta menggunakan pakaian yang meniru-niru mereka dengan bentuk model yang tidak menutup aurat baik karena bentuknya yang ketat ataupun yang tipis kainnya (lihat Al-Khuthab, 1/102-104). Dan sebenarnya masih banyak sekali yang lainnya, yang tidak bisa kita sebutkan dalam kesempatan ini karena terbatasnya tempat.

[4] Tidak menyukai tersebarnya kebenaran, dan hasad terhadap ilmu serta keutamaan yang Allah berikan kepada ahlul ilmi, dan berbagai akhlak jelek lainnya.

Di dalam kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan beberapa akhlak Yahudi yang banyak ditiru oleh sebagian kaum muslimin. Diantaranya:

  • Mereka hasad terhadap hidayah dan ilmu yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada kaum muslimin.
  • Mereka menyembunyikan ilmu, baik karena bakhil yaitu agar selain mereka tidak mendapatkan keutamaan, atau karena takut akan dijadikan hujjah untuk membuktikan kesalahan mereka.
  • Mereka tidak mengakui kebenaran kecuali apa yang sesuai dengan kaum mereka.
  • Mereka merubah Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala baik lafadz ataupun maknanya.(Lihat Al-Iqtidha, 1/83-88)

Demikianlah secara ringkas sebagian kecil dari bentuk-bentuk tasyabbuh bil kuffar. Sesungguhnya masih banyak yang belum disebutkan karena sedikitnya ilmu dan lembar yang terbatas. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir.

Karena seorang muslim semestinya tahu bahwa tidak ada agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali agama Islam, dan bahwa agama ini telah menghapus agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Sehingga kalau agama yang benar yang dibawa oleh para rasul saja dihapus dengan datangnya agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lalu bagaimana dengan agama yang sudah berubah sebagaimana agama Yahudi dan Nashara yang ada sekarang ini? Maka tentunya sangatlah tercela perbuatan orang-orang yang meniru-niru orang kafir.Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Sumber: www.salafy.or.id

repost: http://ayobelajaragama.blogspot.com/p/waspadai-sikat-tasyabbuh.html

Gadis Kecilmu

Sebuah Catatan Untuk Kaum Ayah
Oleh: Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlazberbakti-kepada-kedua-orang-tua-704x318

Miris dan mengerikan!!! Naudzu billah min dzalik.

Ingin menutup telinga dari kenyataan, tidak mungkin bisa kita lakukan. Telinga, mata dan perasaan kita telah tercabik-cabik hingga tak berbentuk lagi (bagi yang masih memiliki hati). Dan saya yakin, dari sekian banyak kaum muslimin, masih ada di antara mereka yang masih memiliki hati. Bagaimana dengan Anda?

Apa korelasi antara hati, Anda dan kalimat pembuka di atas? “Miris dan mengerikan!!! Naudzu billah min dzalik“.

Saya sedang berbicara tentang fakta pahit dan kenyataan yang tak terbantahkan. Beberapa bencana besar telah melanda negeri. Dekadensi dan keruntuhan moral telah menjadi bagian dari lantai dasar tempat kita berpijak di negeri ini. Secara khusus lagi yang ingin saya sentuh dalam catatan kecil ini adalah kaum remaja putri negeri.

Bukan menjadi rahasia lagi jika di negeri ini telah berlaku praktek-praktek asusila. Mengeksplotasi kaum remaja putri sebagai lumbung penghasilan seakan menjadi hal yang tidak asing lagi. Bencana ini semakin bergelombang lagi ketika kaum remaja putri itu sendiri tidak memiliki landasan hidup yang kokoh. Jauh dari karekter seorang gadis muslimah!

Hamil di luar nikah, trafficking, pemerkosaan, seks bebas, depresi, broken home dan nge-punk adalah contoh kecilnya. Apakah tidak terlalu besar kita berharap? Berharap lahirnya generasi Islam yang segagah para pendahulunya? Sementara calon-calon ibu yang akan melahirkan generasi tersebut malah dipinggirkan dan terlupakan?

Kali ini saya tidak ingin membicarakan mereka kaum awam. Mereka yang memang pada dasarnya tidak tertarik untuk berpegang dengan Islam sebagai pedoman hidup. Saya ingin “menyentil” kaum Ayah yang disebut-sebut orang sebagai kaum ngaji. Kaum Ayah yang -inginnya- mengikut Al Qur’an, As Sunnah dan Manhaj Salaf.Tentunya Anda dan saya sendiri termasuk, bukan?

Tulisan ini tentang gadis kecilmu dan gadis kecilku. Putri-putri tersayang kita. Baarakallahu fiikum

OOOOO_____OOOOO

Sebelumnya saya menyampaikan sejuta maaf untuk kaum Ibu. Bukan ingin mengecilkan arti seorang Ibu, bukan pula hendak melupakan jasa dan peran seorang Ibu. Hanya saja, kali ini saya ingin berbicara dengan kaum Ayah min qalb ilaa qalb. Dari hati ke hati.

Anak perempuan sangat diperhatikan oleh Islam. Zaman jahiliyah, seorang anak perempuan yang dilahirkan akan dikubur hidup-hidup. Bagi mereka, anak perempuan adalah cela yang mencoreng ”nama baik” keluarga. Anak perempuan dipandang rendah, tidak memiliki apa-apa, hanya beban saja dan tidak bisa diharapkan. Padahal, siapa yang telah bersusah payah mengandung dan melahirkan mereka? Ibu…Iya, Ibu mereka sendiri. Seorang perempuan.

Allah akan menuntut jawaban dan tanggung jawab dari mereka pada hari kiamat kelak. Allah berfirman tentang hari kiamat ;

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, (QS. 81:8)

Karena dosa apakah dia dibunuh, (QS. 81:9)

Ajaran Islam yang amat mulia dan luhur mengajarkan kepada kita untuk memberikan perhatian khusus kepada anak perempuan. Di pundak mereka lah harapan agar terlahir nantinya generasi Islam yang tangguh. Sebab, kaum Ibu adalah madrasah pertama dalam kehidupan.

Anak perempuan harus diperhatikan! Dan anak perempuan pun ingin selalu diperhatikan.

.

.

Secara khusus Rasulullah menjelaskan ;

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Siapa saja orangnya yang diuji dengan sedikit saja (masalah) dari anak-anak perempuannya, namun ia tetap berlaku dengan baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi sebab penghalang dari api neraka” (Hadits Ibunda ‘Aisyah riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada janji besar dan pahala indah untuk orangtua yang selalu bersabar di dalam mendidik, merawat, menjaga dan mengasihi anak perempuan sepenuh hati. Bila sebagian orang merasa “sedih” atau “kecil hati” dengan anak perempuan, Islam justru melecut, memotivasi dan mencambuk orangtua untuk member perhatian khusus terhadap anak perempuan.

Adakah yang tidak ingin bersama nabi Muhammad di hari kiamat? Ingin tahu salah satu caranya? Bacalah hadits berikut ini! Hadits Anas bin Malik riwayat Imam Muslim.

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ

“Siapa saja yang merawat dua anak perempuan sampai mereka baligh, Saya dan dia akan datang bersama di hari kiamat”

Sabda di atas diucapkan oleh nabi Muhammad dan setelah itu beliau menggabungkan jari jemarinya. Tanda betapa dekatnya orang itu dengan Rasulullah kelak. Subhaanallah! Wahai kaum Ayah, apakah Anda-Anda tidak tertarik?

Apakah janji ini hanya berlaku untuk mereka yang mendidik dua anak perempuan? Tidak! Di dalam sebuah riwayat yang dishahihkan oleh Al Albani (Ash Shahihah 1027), disebutkan jika janji di atas pun berlaku untuk orangtua yang mendidik, merawat dan menjaga seorang anak perempuan. Benar! Satu anak perempuan pun bisa menjadi jalan indah menuju surga bersama baginda Rasul.

Jangan sia-siakan peluang ini!!! Baarakallahu fiikum.

OOOOO_____OOOOO

Nah… sekarang saya ingin berbicara tentang peran penting seorang Ayah. Tahukah Anda, wahai Ayah? Seorang anak perempuan akan mengalami “mati rasa” bila tidak memperoleh perhatian yang cukup dari ayahnya. Sudahkah Anda menyadari, wahai Ayah? Seorang anak perempuan akan mengalami “hampa rasa” jika jiwanya tidak dibasahi oleh aliran kasih sayang seorang ayah.

Apakah saya mengada-ada? Ataukah Anda yang kurang peka? Apakah saya membuat-buat sendiri? Ataukah Anda yang tidak menyadari? Apakah Anda harus menunggu putri Anda “mati rasa” atau “hampa rasa” dan setelah itu barulah menyesal? Apakah Anda harus mendengarnya secara langsung dari mereka untuk percaya kata-kata saya? Padahal mereka lebih memilih untuk memendamnya di hati.Sungguh,wahai Ayah…

Inilah profil baginda Rasul sebagai seorang ayah!

Selalu dan selalu hal ini dilakukan oleh baginda Rasul kepada Fathimah. Setiap kali Fathimah datang berkunjung, baginda Rasul akan bangkit berdiri, menyambut dan mencium kening sang putri tercinta. Sudahkah hal ini Anda lakukan, wahai Ayah?

Betapa marahnya baginda Rasul ketika mendengar Ali bin Abi Thalib (menantu beliau, istri Fathimah) akan mempersunting putri Abu Jahal untuk dijadikan sebagai istri kedua. Sabda apa ketika itu dari baginda Rasul?

“Sungguh! Bani Hasyim bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkah putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Dan aku tidak izinkan mereka! Aku tidak izinkan mereka! Aku tidak izinkan mereka! Kecuali memang Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku untuk menikahi putri mereka!”

Kemudian beliu melanjutkan,

فَإِنَّمَا ابْنَتِي بَضْعَةٌ مِنِّي، يَرِيبُنِي مَا رَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا

“Sungguh! Putriku itu tidak lain dan tidak bukan adalah bagian diriku. Aku tidak senang sesuatu yang tidak ia senangi. Apa yang membuatnya tersakiti juga membuat diriku tersakiti” (HR Bukhari Muslim dari sahabat Al Miswar bin Makhramah)

Seperti inilah seorang ayah seharusnya!

Apakah Anda bisa turut merasakan kebahagiaan putri Anda? Ataukah Anda tidak pernah sama sekali mengerti, kapankah putri Anda bahagia dan kapankah ia bersedih? Apakah Anda bisa sama-sama merasakan sakit yang dirasakan oleh putri Anda? Ataukah malah Anda yang menyakiti hatinya? Cobalah jujur kepada diri sendiri!

Perhatian dan kasih penuh yang dicurahkan oleh nabi Muhammad telah membentuk karakter indah pada diri Fathimah. Hari-harinya selalu diteduhi dan dinaungi cinta sang ayah. Pantas saja jika Ibunda ‘Aisyah menyebut Fathimah sebagai orang yang paling mirip dengan baginda Rasul. Cara duduknya, cara berjalannya, cara berbicaranya dan segala-galanya.

Mengapa demikian?

Seorang ayah adalah figur terbaik untuk putrinya. Seorang ayah adalah cermin tempat putrinya berkaca dan membentuk kepribadiannya. Apapun akhirnya nanti pada karakter dan kepribadian seorang putri, maka ayahnya telah mengambil peranan tersendiri.

Sekarang pertanyaannya,”Akan menjadi seperti apakah Anda akan membentuk putri Anda???”

OOOOO_____OOOOO

Tahukah Anda, wahai Ayah? Apa yang sedang dan selalu dibayangkan dan diinginkan oleh putri Anda?

Ia ingin disayang sepenuh hati. Berharap cerita-cerita penggugah jiwa sebelum tidurnya. Ia ingin didekap dan digandeng tangannya sambil Anda menanamkan nilai-nilai hidup mulia di dadanya. Ia tak ingin –walaupun sekali- mendengar marahmu dalam kata-kata bernada tinggi.

Jangan marah dan jangan emosi ketika putri Anda menangis dan memegang erat tangan Anda ketika Anda akan pergi meninggalkan rumah. Itu tanda cintanya, wahai Ayah! Tangisannya adalah benang-benang cinta yang terajut kuat dalam lembaran kasih seorang putri kepada ayahnya.

Ia ingin mendengar kisah-kisah tentang ayahnya ketika muda, ketika kecilnya. Ia akan sangat bangga ketika melantunkan kembali kisah-kisah Anda,” Kata Abiku gini lhooo!” atau ” Abahku pernah cerita kayak gitu juga kok” atau “Abiku bilang itu nggak boleh karena dilarang Allah”. Iya, seorang putri tidak akan mudah melupakan pesan-pesan ayahnya.

Percaya ataukah tidak, wahai Ayah, seperti itulah faktanya!

Jangan terlambat, wahai Ayah! Sadarkah Anda di sana pun putri Anda mungkin terluka? Walau ia tidak secara jujur mengungkapkanya. Iya, barangkali ia sedang terluka di sana. Mengharapkan kasih sayangmu, kelembutanmu, perhatianmu, waktumu, kisah-kisahmu? Cobalah bertanya tentang doa-doanya untuk Anda.

Sebelum terlambat, raih dan genggam tangannya! Ucapkan maaf dengan setulus kata. Gantilah hari-harinya dahulu yang penuh dengan sendu menjadi hari-hari ceria. Biarkan ia tersenyum indah menikmati sepoinya angin, cerahnya malam dan sejuknya gemercik air.

Ingat, wahai Ayah! Gadis kecilmu itu barangkali akan menjadi gerbang menuju surgamu di hari akhirat kelak.

Amin yaa Arhamar Raahimiiin

_Daar El Hadith Dzamar Republic of Yemen_05.12.13 (19.42)

_sambil berdoa untuk gadis kecilku : Izzah Zainatus Shofaa bintu Mukhtar La Firlaz_

Sumber : ibnutaimiyah.org
Daarussalaf.or.id

Bimbingan Ulama menyikapi Natal dan Tahun Baru

index

Penyusun: Al-Ustadz Muhammad Rifqi hafidzahullah

Para pembaca yang berbahagia,

Hari Natal dan Tahun Baru sering menjerumuskan kaum muslimin. Natal merupakan salah satu hari raya umat Kristen dalam rangka memperingati kelahiran Isa al-Masih ‘alaihissalam yang menurut anggapan mereka jatuh pada tanggal 25 Desember. Sedangkan perayaan Tahun Baru adalah perayaan untuk menyambut berakhirnya masa satu tahun kalender Masehi (Gregorian) dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya pada tanggal 1 januari. Bagaimanakah pandangan Islam dalam hal ini? Islam –sebagai agama yang sempurna- melalui para ulama, telah memberikan bimbingan yang tepat kepada umatnya di dalam menyikapi 2 hari raya tersebut sebagaimana berikut ini:

 

  • Umar bin al-Khoththob radhiallahu’anhu berkata, “Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah subhanawata’ala pada hari raya mereka.” (HR. al-Baihaqi no. 18641. Lihat: Fatawa Ulama al-Haram al-Makki hal. 113)
  • Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan sebuah pasal dalam kitabnya: “Pasal. Bid’ah Hari-Hari Raya dan Perayaan-Perayaan, Serta Larangan untuk Ikut Serta Merayakan bersama Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) Pada Hari-Hari Raya dan Perayaan-Perayaan (Hari Besar) Mereka.” (al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’, hal. 120)

Tentang perayaan Tahun Baru Masehi beliau rahimahullah juga menyebutkan: “Larangan dari Perayaan yang dinamakan Malam Tahun Baru Masehi. Dan ini termasuk dari perkara yang dilakukan oleh kebanyakan manusia pada musim dingin, yang menurut anggapan mereka bahwa pada saat itulah Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan. Maka seluruh yang dilakukan pada malam-malam ini merupakan kemungkaran seperti menyalakan api, membuat makanan (menyambut Tahun Baru), membeli lilin dan selainnya (seperti terompet, pent). Karena sesungguhnya menjadikan hari-hari kelahiran sebagai hari raya adalah berasal dari ajaran Kristen. Yang demikian ini, tidak ada asalnya dalam ajaran Islam.” (al-Amru bil Ittiba’ wa Nahyu ‘anil Ibtida’, hal 122)

  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta)

Pertanyaan: “Apa hukumnya turut serta bersama orang-orang Kristen dalam merayakan hari-hari raya mereka? Berilah kami fatwa semoga Allah subhanawata’ala memberi pahala kepada kalian.

Jawab: “Tidak boleh untuk turut serta bersama orang-orang Kristen dan selain mereka dari kalangan orang-orang kafir dalam merayakan hari-hari raya mereka. Karena perbuatan yang demikian merupakan bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, menyetujui kemungkaran yang ada pada mereka, dan menunjukkan kecintaan kepada mereka. Allah subhanawata’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya tentang sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala, diantaranya adalah: “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur.” (al-Furqan: 72). Tafsir ayat tersebut adalah (diantara sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala) mereka tidak menghadiri acara-acara kemungkaran, seperti hari-hari raya orang-orang kafir dan selainnya.” (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 441, No. 16426)

  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta)

Pertanyaan: “Apakah boleh bagi seorang muslim untuk turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya Kristen seperti hari Natal –yang jatuh pada akhir bulan Desember- ataukah tidak? Di lingkungan kami terdapat orang-orang yang dianggap alim ulama akan tetapi mereka menghadiri acara orang-orang Kristen yaitu pada hari raya Kristen dan mereka berpendapat bolehnya untuk menghadiri acara tersebut. Apakah pendapat yang demikian benar atau tidak? Apakah mereka memiliki landasan syar’i atas bolehnya atau tidak?

Jawab: “Tidak boleh turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya mereka, walaupun yang turut serta di dalamnya adalah orang-orang yang dianggap alim ulama. Karena dalam perbuatan yang demikian akan memperbanyakjumlah mereka dan merupakan bentuk tolong-menolong dalam dosa. Allah subhanawata’ala berfirman: “Dan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2) (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 2/ 76, No. 8848)

  • Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal? Bagaimana kita membalas ucapan mereka apabila mereka mengucapkannya kepada kita? Apakah boleh untuk menghadiri perayaan-perayaan mereka? Apakah seorang muslim berdosa apabila menghadirinya dengan tanpa maksud tertentu? Hanya saja alasan menghadirinya bisa karena sekedar formalitas, malu, terpaksa (instruksi dari instansi) atau alasan lainnya (demi toleransi beragama)? Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?

Beliau rahimahullah menjawab: “Memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal atau selainnya dari hari-hari raya keagamaan mereka hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya ‘Ahkan Ahli Dzimmah’: “Adapun memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekafiran yang menjadi cirri khasnya maka hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari raya dan puasa dengan mengucapkan, ‘Hari raya yang penuh keberkahan untukmu’ atau engkau memberi ucapan selamat dengan hari raya tersebutdan yang semacamnya. Maka yang demikian ini, apabila si pengucapnya selamat dari kekufuran, minimalnya perbuatan tersebut adalah haram. Ibaratnya dia mengucapkan slamat atas sujudnya yang demikian lebih besar dosanya di sisi Allah subhanawata’ala dan sangat dibenci daripada mengucapkan selamat kepada mereka karena mereka meminum minuman keras, membunuh orang lain, berzina dan semacamnya. Kebanyakan orang-orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perbuatan ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya.

Maka barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada orang yang melakukan kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran berarti ia telah menyerahkan dirinya untuk menerima kebencian dan kemurkaan Allah.”

(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata), Haramnya memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir pada hari-hari raya keagamaan mreka, dan sebagaimana pula yang diucapkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, karena yang demikian berarti menyetujui kekafiran mereka dan ridho dengannya. Walaupun ia tidak ridha, kekafiran tersebut mengenai dirinya namun diharamkan bagi setiap muslim untuk meridhai kekafiran atau memberi ucapan selamat dengannya pada diri orang lain.

Karena Allah subhanawata’ala tidak meridhai yang demikian sebagaimana firman Allah subhanawata’ala: “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan (ilmu)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (az-Zumar: 7).

Allah subhanawata’ala juga berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Memberi ucapan selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang kafir) yang punya hubungan bisnis dengan seorang muslim ataukah tidak. Apabila mereka memberi ucapan selamat kepada kita pada hari-hari raya mereka maka kita tidak boleh membalasnya karena itu bukan hari raya kita. Dan hari raya mereka tidak diridhai Allah subhanawata’ala. Karena hari-hari raya mereka bisa jadi sesuatu yang diada-adakan atau disyariatkan dalam agama mereka akan tetapi itu semua telah dihapus oleh Islam dengan diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihiwasallam oleh karena Allah subhanawata’ala kepada seluruh makhluk.

Allah subhanawata’ala berfirman: “Barangsiapa mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali-Imran: 85).

Haram hukumnya bagi setiap muslim untuk memenuhi undangan hari raya mereka. Karena perbuatan yang demikian lebih buruk dari pada memberi ucapan selamat kepada mereka dikarenakan dia telah turut serta di dalamnya. Demikian pula diharamkan bagi setiap muslim untuk menyerupai orang-orang kafir dengan mengadakan pesta, tukar-menukar hadiah, membagi-bagi permen, menyediakan makanan, libur kerja dan semisalnya pada saat hari raya mereka. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dar mereka.” (HR. Ahmad 2/ 50, 92)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam kitabnya ‘Iqtidha Shirathal Mustaqim’: “Menyerupai orang-orang kafir pada sebagian hari-hari raya-nya akan menanamkan rasa senang dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada diri mereka. Yang demikian bisa jadi akan memberi semangat bagi mereka untuk mengambil kesempatan (menjalankan misi) dan merendahkan orang-orang yang lemah.”

(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata), “Dan barangsiapa yang melakukan demikian maka ia berdosa baik melakukannya karena sekedar formalitas, rasa suka, malu atau sebab lainnya. Karena yang demikian berarti telah melakukan penipuan terhadap agama dan menjadi sebab semakin menguatnya jiwa orang-orang kafir dan membuat mereka semakin bangga terhadap agama mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin 3/ 44 – 4, fatwa no. 404).

  • Komisi Fatawa Saudi Arabia (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta’)

Pertanyaan: “Di sana ada sebagian kaum muslimin yang merayakan hari-hari raya orang-orang kafir dan hari-hari raya yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanawata’ala seperti hari ibu, hari raya musim semi rakyat Mesir dan hari raya tahun baru. Apa hukumnya orang yang merayakan hari-hari raya tersebut?

Jawab: “Semua hari raya ini adalah bid’ah (tidak ada asalnya dalam Islam), tidak boleh untuk ikut nerayakannya dan tidak boleh pula untuk menjadikannya sebagai hari raya. Dan tidak ada di dalam ajaran Islam selain dari 2 hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Oleh karena itulah wajib bagi setiap orang yang Allah subhanawata’ala telah terangi pandangannya dengan mengetahui kebenaran agar memberikan nasehat dan bimbingan dengan penuh hukmah kepada siapapun yang merayakan hari-hari raya yang bid’ah tersebut. Apabila dia mau menjauh dari perbuatan tersebut maka dia tidak terkena dosa dan apabila tetap bersikeras di atas kebid’ahan tersebut maka ia berdosa.” (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 437, soal ke 1 No. 16419)

  • Komisi Fatwa Saudi Arabia juga melarang kaum muslimin saling memberi ucapan Selamat Tahun Bru Masehi dikarenakan perayaan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam. (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 1/ 454, soal ke 1 No. 20795)
  • Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah mengatakan, “Termasuk perbuatan yang menunjukkan rasa cinta kepada orang-orang kafir adalah: … Turut serta bersama orang-orang kafir di dalam perayaan-perayaan mereka atau tolong-menolong dengan mereka dalam penyelenggaraan acara tersebut, mengucapkan selamat atas perayaan-perayaan tersebut atau ikut menghadiri dalam perayaan-perayaan tersebut.

Hal ini sebagai tafsir dari firman Allah subhanawata’ala: “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur.” Tafsir dari ayat ini adalah (termasuk dari sifat hamba-hamba Allah subhanawata’ala) mereka tidak menghadiri acara-acara kemungkaran, seperti perayaan-perayaan orang kafir.” (al-Wala wal Bara, hal. 13).

  • Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia tertanggal 1 Jumadal Ula 1401 Hijriyyah/ 7 Maret 1981 Masehi yang itetapkan di Jakarta memfatwakan tentang larangan mengikuti upacara natal bersama bagi umat Islam dan mengikuti kegiatan-kegiatan natal. (Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia sejak 1975 Bidang Sosial dan Budaya, hal. 307 – 314)

Wallahu a’lan bish shawab.

Sumber : diketik ulang untuk darussalaf.or.id dari Buletin Jum’at Al-Ilmu Edisi 08/II/XII/1435H

Menjaga Lisan Dan Keutamaannya

Image

Allah berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia telah menyempurnakan untukmu nikmt-Nya, lahir dan batin..” (Luqman: 20)

Dan Allah berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya.” (Ibrahim: 34)

Di antara nikmat ini adalah lisan. Allah memuliakan hamba-Nya dengan lisan dan menjadikan lisan sebagai pengungkap sesuatu yang ada di dalam jiwanya. Sebagaimana Allah berfirman:

الرَّحْمَٰنُ () عَلَّمَ الْقُرْآنَ () خَلَقَ الْإِنسَانَ () عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

“Rabb Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.  Dia telah menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara.” (Ar-Rahman: 1-4)

Dan Allah berfirman menyebutkan kebaikan-Nya kepada hamba-Nya ketika Dia menjadikan sebuah lisan untuknya:

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ () وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, serta lidah dan dua buah bibir?’ (Al Balad: 8-9)

Dengan sebab lisan, pemiliknya kadang di angkat ke derajat yang paling tinggi. Hal itu ketika pemiliknya menggunakan lisannya dalam perkara-perkara yang baik, seperti berdoa, membaca Al-Qur’an, berdakwah kepada Allah, mengajar, dan semisalnya.

Dengan kata lain, jika dia menggunakannya dalam hal yang diridhoi Allah. Seperti mengucapkan kalimat tauhid, apabila terpenuhi persyaratannya yang terkumpul di dalam dua bait syair:

Ilmu, keyakinan, dan keikhlasan serta kejujuranmu disertai

Kecintaan, keterikatan, dan penerimaan terhadapnya

Bahkan ini adalah seutama-utama kalimat yang diucapkan oleh lisan. Di dalam Ash-Shahihain dari hadits abu Hurairah, dia mengatakan:

Rasulullah bersabda:

“Keimanan ada empatpuluh tiga cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan Laa ilaha illallah, dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.”

Dengan kalimat ini pula kebahagiaan akan diperoleh. Dan sungguh Nabi dahulu menyeru kaumnya kepada kalimat ini dan mengatakan:

“Ucapkanlah Laa ilaha illallah, pasti kalian akan selamat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan dari Thariq bin Abdullah bin Al-Maharibi, juga tercantum dalam Ash-Shahihul Musnad.

Di antaranya juga adalah bedzikir, sebagaimana Rabb kita telah berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)

al-Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnad-Nya, juga At-Tirmidzi (no. 3377, dan ini adalah lafadznya), dari Abud Darda’ ia mengatakan: Rasulullah bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Penguasa kalian, dan paling meninggikan derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada infaq emas dan perak, juga lebih baik bagi kalian daripada masuk ke dalam kancah pertempuran lalu kalian menebas leher-leher mereka dan mereka pun menebas leher-leher kalian?” Mereka mengatakan: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau mengatakan: “Berdzikir kepada Allah.” Muadz bin Jabal mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang paling menyelamatkan dari adzab Allah daripada mengingat Allah. “Hadits ini juga dicantumkan dalam Ash-Shahihul Musnad (1/145)

( Diambil dari Nasehat Untuk Kaum Musliman, Pustaka Ar Rayyan )

Sumber : http://salafy.or.id/blog/2013/10/01/menjaga-lisan-dan-keutamaannya/

PENYAKIT-PENYAKIT LISAN

Lisan terkadang menjadikan pemiliknya terjerembab ke dalam api neraka. Allah berfirman tentang penduduk surga bahwa mereka bertanya kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ () قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ () وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ () وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ () وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ () حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ ()

“(Penduduk surga bertanya) ‘Apa yang menyebabkan kalian masuk ke dalam saqar (Neraka)?’ Mereka (penduduk neraka) menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) member makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’.” (Al-Muddatstsir: 42-47)

Ibnu Katsir berkata tentang firman-Nya (adalah kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya): “Maksudnya, kami membicarakan sesuatu yang tidak kami ketahui. Qatadah berkata: ‘Kami seorang yang sesat itu tersesat, maka kami tersesat bersamanya’.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba itu mengatakan suatu kalimat yang diridhai Allah yang mana dia tidak menaruh perhatian tentangnya, yang dengan sebab kalimat itu Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang dimurkai Allah, yang mana dia tidak menaruh perhatian tentangnya, maka dengan sebab kalimat itu dia terjatuh ke jahannam.”

Muslim juga meriwayatkan yang semakna dengannya (4/2290)

Berikut ini sebagian penyakit-penyakit lisan:

1. Mengucapkan kesyirikan dan kekufuran

Misalnya berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, bersumpah dengan selain nama Allah, bernadzar kepada selain Allah. Lisan wajib dijaga dari kesyirikan-kesyirikan seperti ini. Dan mengucapkan kalimat kesyirikan merupakan penyakit lisan yang paling besar.

Terkadang lisan juga mengucapkan kekufuran, seperti mencela Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya hal ini adalah kekufuran. Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ () لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 65-66)

2. Mengucapkan perkara bid’ah

Seperti dzikir berjamaah, mengajak kepada bid’ah, menganjurkan untuk mengadakan peringatan maulid Nabi, dan puasa di bulan Rajab. Bid’ah merupakan sesuatu yang diharamkan dan merupakan kesesatan. Dan tidak ada bid’ah yang baik, karena Nabi telah bersabda:

“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Kata (setiap) merupakan sebuah bentuk kata yang bermakna umum.

Juga disebutkan dalam Ash-Shahihain dari ‘Aisyah, dia berkata: Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru dalam perkara kami ini (agama) yang bukan bagian darinya, maka perkara itu tertolak.”

3. Ghibah

Definisi ghibah telah jelas, sebagaimana disebutkan di dalam hadits riwayat Muslim (4/2001, no. 2589):
Yahya bin Ayyub, Qutaibah dan Ibnu Hujr telah mengabarkan kepada kami, mereka berkata: Isma’il mengabarkan kepada kami dari Al-‘Ala’, dari bapaknya, dari abu Hurairah, bahwa Rasulullah berkata:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”

Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau berkata: “Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.”

Ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana pendapat Anda jika sesuatu yang saya katakana itu ada pada diri saudaraku?”

Beliau berkata: “Jika yang kau katakan itu ada pada dirinya, maka sungguh engkau telah mengghibahinya. Sedangkan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh engkau telah membuat kedustaan terhadapnya.”

( Diambil dari Nasehat Untuk Kaum Musliman, Pustaka Ar Rayyan )

Sumber : http://salafy.or.id/blog/2013/11/22/penyakit-penyakit-lisan/

SEKEDAR NASEHAT BUAT KAUM HAWA

SEKEDAR NASIHAT UNTUK KAUM HAWA

1.    Untuk membentuk bibir yang menawan, Ucapkan kata-kata kebaikan.
2.    Untuk mendapatkan mata yang indah, Carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.
3.    Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, Berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.
4.    Untuk mendapatkan rambut yang indah, Mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.
5.    Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, Berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, Dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian. Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain, Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni.
6.    Jadi, jangan pernah kucilkan seseorang dari hati anda Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, Ingatlah senantiasa, Jika suatu ketika anda membutuhkan pertolongan, Akan senantiasa ada tangan terulur.
7.    Dan dengan bertambahnya usia anda, Anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, Satu untuk menolong diri anda sendiri, Dan satu lagi untuk menolong orang lain.
8.    Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, Bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya.
9.    Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia. Karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, Di mana cinta dapat berkembang.
10.    Kecantikan wanita, bukan pada kehalusan wajahnya, Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, Yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta yang dia berikan Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.